Archive

Posts Tagged ‘tapering’

Currency War Bank Sentral G7

currency-logo

Di awal tahun 2014 lalu, terkesan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed), Inggris (BoE), Kanada (BoC) lebih condong akan mengubah kebijakan moneternya ke arah pengetatan. Namun belakangan ini, ketiga bank sentral berusaha meredam ekspektasi pasar tersebut. Sementara Bank Sentral Jepang (BoJ) dan Eropa (ECB) memang masih terlihat mendukung pelonggaran moneter sejak tahun lalu.

Fed sudah memutuskan pengurangan stimulus (tapering) di akhir 2013 dan kebijakan tapering ini pun berlanjut di tahun 2014. Dari sebelumnya program pembelian aset sebesar $85 milyar setiap bulannya, kini tinggal $45 milyar. Bahkan Fed berancang-ancang akan meniadakan stimulus di akhir tahun 2014 ini dan mungkin akan memulai kenaikan suku bunga pada pertengahan 2015. Namun belakangan ini melalui Janet Yellen (Gubernur Fed), Fed menyatakan masih perlunya dukungan kebijakan pelonggaran moneter untuk perekonomian AS.

Adapun Bank Sentral Inggris sejak akhir tahun lalu sudah dianggap sebagai bank sentral G7 yang akan pertama kali menaikan suku bunga. Ini karena data-data ekonomi Inggris cukup memuaskan. Terutama tingkat pengangguran yang pernah dijadikan acuan oleh BoE, sudah turun menjadi 6,9% di bawah ambang batas 7% yang ditetapkan BoE sebagai syarat untuk mengubah kebijakan moneter menjadi lebih ketat. Dan di kuartal ke-2 tahun 2015, BoE diperkirakan akan menaikan suku bunga. Namun para pejabat BoE secara verbal mengatakan bahwa Inggris masih memerlukan kebijakan pelonggaran moneter hingga pemulihan ekonomi berlangsung stabil. BoE juga belum akan menghilangkan program pembelian aset sebesar 375 milyar pound hingga tingkat suku bunga acuan mulai dinaikan.

Kanada dengan pertumbuhan GDP dan tingkat inflasi dalam tren yang positif membangun ekspektasi pasar bahwa BoC akan mulai memikirkan kebijakan pengetatan moneter. Namun BoC menegaskan bahwa kebijakan pengetatan moneter belum akan terjadi dalam waktu dekat meskipun pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari ekspektasi semula. Selain itu BoC memandang bahwa tingkat inflasi masih di bawah target paling tidak hingga 2016.

Komitmen pada pelonggaran moneter tentu saja berimplikasi pada pelemahan nilai tukar masing-masing. Nah, dengan ke-5 bank sentral menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pelonggaran moneter menimbulkan kesan seakan-akan mereka lebih senang mata uangnya melemah dan ini diam-diam menimbulkan perang mata uang (currency war). Nilai tukar yang lemah memang dibutuhkan di negara G7 yang sedang dilanda tingkat inflasi yang rendah yang berpotensi menuju deflasi.

Dengan kecenderungan kebijakan moneter yang sama, pergerakan nilai tukar akan ditentukan oleh rilis data-data ekonomi yang menjadi indikator kesehatan ekonomi dan mungkin bisa mengubah arah kebijakan moneter ke depannya. Mana data ekonomi yang menunjukkan hasil yang lebih baik, mata uang itu yang akan menguat dibandingkan mata uang lainnya. Jadinya pergerakan nilai tukar akan rentan dengan data-data ekonomi baru yang akan dirilis di kemudian hari.

Jadwal rilis data-data ekonomi penting bisa dilihat di sini: http://www.monexnews.com/calendar/homeCalendar.htm.

Twitter: @aristontjendra

 

 

Prospek Harga Emas Di Kuartal Ke-2 2014

April 2nd, 2014 No comments

Pada pertengahan Maret 2014 menjelang hasil keputusan rapat moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS), harga emas berangsur turun dari puncak tertinggi 2014 di dekat $1392 per troy ons hingga mencapai $1277 per troy ons awal April lalu.

Bulan Pembukaan Tertingggi Terendah Penutupan %Penutupan
Desember 2013 1250.03 1267.75 1182.33 1209.39  
Januari 2014 1209.52 1279.10 1209.52 1245.05

2.95%

Februari 2014 1242.55 1345.28 1240.74 1323.66

6.31%

Maret 2014 1333.62 1391.97 1282.27 1283.65

-3.02%

Sumber: www.mifx.com, harga dalam satuan USD per troy ons

Dibandingkan harga penutupan 2013, harga emas pernah mencapai kenaikan sebesar 15,1%. Namun di akhir Maret 2014, persentase kenaikan ini menciut menjadi hanya sebesar 6,14%.

Beberapa faktor penting yang menekan turun harga emas yaitu:

  • Prospek kebijakan pengetatan moneter AS yang bisa datang lebih cepat. Dalam konferensi press pasca pengumuman keputusan, Janet Yellen (Gubernur Bank Sentral AS) mengeluarkan pernyataan kenaikan suku bunga mungkin bisa terjadi enam bulan setelah program stimulus berakhir. Pejabat bank sentral lainnya, Charles Plosser (Presiden Federal Reserve cabang Philadelphia), memproyeksikan bahwa suku bunga acuan Fed akan berada di 3% pada tahun 2015 dan 4% di 2016.
  • Isu pelambatan ekonomi China. Isu ini memunculkan asumsi di pasar bahwa permintaan emas fisik dari China bisa berkurang.
  • Masuknya sentimen risk appetite (minat terhadap resiko) didorong oleh membaiknya data-data ekonomi AS dan Eropa serta penegasan Janet Yellen bahwa bank sentral masih mendukung pelonggaran moneter.

Faktor-faktor penekan di atas masih akan membayangi pergerakan harga emas di kuartal ke-2 ini. Sementara faktor yang bisa mengangkat harga emas kembali adalah:

  • China benar-benar akan merilis program stimulus untuk memulihkan kembali perekonomiannya yang melambat.
  • Konflik antara AS dan Eropa dengan Rusia kembali memanas dan memburuk.
  • Pembelian emas fisik dari China yang biasanya muncul ketika harga emas dianggap sudah rendah.
  • India mengurangi atau bahkan menghilangkan pajak impor emasnya.
  • Bank Sentral Jepang dan Eropa melakukan pelonggaran moneter kembali.

Melihat faktor-faktor di atas, memang penguatan harga emas akan terganjal. Bila kita melihat grafik, harga emas berada dalam rentang support 1156-1182 dan resisten 1392-1420. Faktor-faktor penekan harga emas tersebut berpeluang membawa harga tetap di bawah kisaran resisten 1392-1433. Sementara faktor pengangkat harga emas akan menahan harga tidak jatuh ke bawah support 1155-1182. Memang terlihat harga emas membentuk harga tinggi (1392) yang lebih rendah dari harga tinggi yang terbentuk pada Bulan Agustus 2013 (1433) yang bisa mengindikasikan harga emas masih dalam tekanan turun, namun support di kisaran 1156-1182 juga kelihatan cukup kuat untuk menahan penurunan harga emas paling tidak di kuartal ke-2 ini.

Grafik Harga Emas - Timeframe Bulanan -Hingga Akhir Kuartal Ke-1 2014

Grafik Harga Emas – Timeframe Bulanan -Hingga Akhir Kuartal Ke-1 2014

Sumber: Monex Trader MT4 Platform

Twitter: @aristontjendra

www.monexnews.com

Tapering Semakin Jelas

February 28th, 2014 No comments

Bank Sentral Amerika Serikat (Fed) mengalami pergantian pucuk pimpinan pada awal tahun ini. Janet Yellen sudah menjadi Gubernur Bank Sentral AS menggantikan Ben S. Bernanke yang tidak ingin dicalonkan kembali. Para pelaku pasar sempat bertanya-tanya bagaimana kebijakan Bank Sentral AS selanjutnya di tangan Yellen. Apakah akan ada perubahan yang drastis atau tidak.

Yellen selama ini dipandang sebagai orang yang berpihak pada pelonggaran moneter untuk membantu pemulihan ekonomi AS. Di saat Fed bersiap untuk mengganti arah kebijakan menjadi lebih ketat, para pelaku pasar meragukan Yellen akan mendukung kebijakan tersebut.

Namun dari testimoni pertama Yellen di hadapan komite keuangan parlemen AS yang pertama di masa jabatannya, Yellen tidak terindikasi akan melakukan perubahan yang drastis pada kebijakan moneter bank sentral. Yellen akan tetap mendukung arah kebijakan yang kini sedang dipersiapkan bank sentral.

Fed sedang mempersiapkan kebijakan exit atau keluar dari kebijakan stimulus dengan kebijakan tapering. Dan Yellen mendukung hal tersebut meskipun Yellen tetap memberikan penekanan bahwa apa yang dilakukan Fed saat ini bukanlah kebijakan pengetatan karena Fed masih menyuntikan stimulus meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit. Fed pun belum akan menaikan suku bunga paling tidak hingga awal tahun 2015.

Para pelaku pasar tampaknya belum yakin kalau Fed akan melanjutkan kebijakan tapering pada rapat-rapat moneter –FOMC (Federal Open Market Committee) ke depannya. Ini terbukti dari pergerakan indeks dollar AS yang tertekan turun saat data-data ekonomi AS dirilis lebih buruk dari prediksi pasar. Pasar menganggap bahwa Fed akan menghentikan program tapering-nya bila data-data ekonomi AS memburuk. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Fed memang masih mempertimbangkan angka-angka statistik perekonomian AS dalam pengambilan keputusannya terutama data tenaga kerja dan inflasi.

Pada rapat FOMC yang terakhir dipimpin oleh Bernanke, yakni pada akhir Januari 2014 lalu. Fed kembali memutuskan penerapan tapering dengan memotong pemberian stimulus sebesar $10 milyar lagi sehingga total pembelian aset untuk Bulan Februari sebesar $65 milyar. Dan pasar akan menantikan keputusan baru dari Fed pada pertengahan Maret nanti dimana kali ini Janet Yellen akan memimpin rapat FOMC untuk pertama kalinya. Pasar masih menantikan apakah tapering akan kembali diterapkan.

Dari notulen rapat (minutes) FOMC Bulan Januari 2014 yang dirilis ke publik terungkap kemungkinan besar Fed akan melanjutkan kebijakan tapering. Beberapa indikasi terlihat dari diskusi yang terjadi dalam rapat pengambilan keputusan tersebut yaitu di antaranya:

  1. Pasar tenaga kerja AS masih bergerak ke arah yang lebih baik meskipun Non-farm Payrolls pada Desember 2013 turun sangat jauh dari data bulan sebelumnya, 74 ribu vs 241 ribu. Penurunan ini terutama disebabkan cuaca dingin ekstrim yang berlangsung di AS.
  2. Tingkat inflasi masih rendah di bawah target Federal Reserve 2%. Namun inflasi bisa naik secara gradual dalam jangka menengah.
  3. Pertumbuhan ekonomi memang belum stabil namun para petinggi Fed melihat ekonomi AS masih akan bertumbuh secara moderat pada kuartal-kuartal yang akan datang.
  4. Volatilitas di beberapa emerging market baru-baru ini tidak berdampak signifikan terhadap outlook ekonomi AS ke depannya.
  5. Beberapa pejabat bank sentral terindikasi menginginkan tapering sebesar $10 milyar dilakukan dalam setiap rapat FOMC ke depannya.
  6. Sebagian kecil peserta membuka kemungkinan suku bunga acuan bank sentral dinaikan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Bahkan ada satu anggota yang membuka kemungkinan suku bunga dinaikan sebelum pertengahan tahun ini.
US Inflation Rate Below 2% Fed's Target. Source: Tradingeconomics.com

US Inflation Rate Below 2% Fed’s Target. Source: Tradingeconomics.com

 

US Unemployment Rate Receding Near 6.5%. Sumber: Tradingeconomics.com

US Unemployment Rate Receding Near 6.5%. Sumber: Tradingeconomics.com

Optimisme Fed yang terekam pada notulen rapat FOMC membangun persepsi di pasar bahwa Fed akan melanjutkan program tapering hingga stimulus berakhir tahun ini. Setelah itu, Fed baru berkonsentrasi ke perubahan suku bunga yang baru mungkin terjadi di 2015. Yellen dalam testimoninya telah menegaskan bahwa Fed masih belum akan membicarakan soal kenaikan suku bunga saat ini. Meskipun tingkat pengangguran sudah menembus ke bawah angka 6,5% pun, suku bunga belum tentu akan dinaikan. Perekonomian AS masih membutuhkan kebijakan moneter yang longgar untuk mempertahankan pemulihan ekonominya.

Fed kemungkinan besar masih akan melanjutkan kebijakan tapering pada rapat FOMC di Bulan Maret ini. Besaran tapering pun kemungkinan tidak melebihi angka $10 milyar. Fed tidak akan tergesa-gesa menghentikan program stimulusnya karena belum melihat pemulihan ekonomi AS yang stabil. Walaupun persentase kemungkinan tapering pada rapat di Bulan Maret semakin besar, para pelaku pasar tentu tidak akan mengabaikan perkembangan data-data ekonomi AS yang akan dirilis sebelumnya karena Fed masih mempertimbangkan perkembangan data-data ekonomi AS dalam mengambil keputusan dan bisa mengubah keputusannya bila data-data yang dirilis jauh di bawah perkiraan.

Dengan tapering yang semakin jelas ini tentunya dampak dari keputusan ini ke pasar keuangan akan tidak terlalu besar karena pasar telah mengantisipasi hal tersebut. Yang akan berdampak besar yaitu bila Fed tidak jadi melakukan tapering atau jumlah tapering-nya hanya setengah dari biasanya. Apapun hasil Fed nanti, para pelaku pasar tentu akan bersiap dengan segala kemungkinan.

Twitter: @aristontjendra

www.monexnews.com

Kecemasan di Emerging Market

February 4th, 2014 No comments

Ini terlihat dari tren depresiasi nilai tukar negara emerging market terhadap dollar AS di tahun 2013 lalu dan kemudian mereda. Namun di awal 2014 ini, gelombang depresiasi muncul kembali seperti yang dialami oleh mata uang Lira Turki, Peso Argentina, Rand Afrika Selatan dan Rubel Rusia. Keempat mata uang ini mengalami depresiasi yang cukup signifikan terhadap dollar AS di awal tahun 2014. Lira Turki melemah sekitar 11,42%, Peso Argentina melemah sekitar 10,4%, Rand Afrika Selatan melemah sekitar 7,71%, dan Rubel Rusia melemah sekitar 5,7%.

Pelemahan yang disebabkan oleh masalah ekonomi dan politik domestik dan diperparah oleh kecemasan dampak tapering AS ini, oleh para pelaku pasar, dikhawatirkan bisa menyebar ke negara emerging market lainnya. Kegelisahan ini memunculkan sentimen pengalihan resiko ke aset-aset yang dianggap lebih aman. Kecemasan di emerging market menjadi salah satu faktor yang harus diwaspadai para pelaku pasar di tahun 2014 ini.

Berikut grafik nilai tukar dollar AS dibandingkan dengan beberapa negara emerging market:

Grafik Nilai Tukar Dollar Vs Mata Uang Emerging Market

Grafik Nilai Tukar Dollar Vs Mata Uang Emerging Market

 

Grafik Nilai Tukar Dollar Vs Mata Uang Emerging Market

Grafik Nilai Tukar Dollar Vs Mata Uang Emerging Market

Grafik Nilai Tukar Dollar Vs Mata Uang Emerging Market

Grafik Nilai Tukar Dollar Vs Mata Uang Emerging Market

Sumber Grafik: XE.com

Faktor Penggerak Pasar Keuangan Di 2014

December 20th, 2013 1 comment

Tahun 2014 sudah di depan mata. Dan tahun 2013 ini menyisakan sentimen-sentimen yang bisa menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan harga di pasar keuangan tahun depan antara lain:

  1. Perbedaan arah kebijakan moneter bank-bank sentral berpengaruh dunia di mana sebelum tahun 2013, para bankir di bank-bank sentral dunia sepakat dengan pelonggaran moneter dengan pemangkasan suku bunga dan penggelontoran stimulus. Kini beberapa bank sentral seperti AS, Inggris, New Zealand, China mulai mewacanakan pengetatan moneter. Sementara bank sentral seperti zona euro, Jepang, Australia, Kanada masih mewacanakan pelonggaran moneter.
  2. Pemulihan ekonomi negara-negara maju dan pelemahan ekonomi negara-negara berkembang meski pertumbuhannya masih melebihi perekonomian negara maju. Negara maju seperti AS, Eropa, Inggris, Jepang yang sempat terkena imbas krisis 2008 kini mulai terlihat bertumbuh dan ini bisa menjadi daya tarik para pemodal untuk berinvestasi pada instrumen yang berkaitan dengan negara maju tersebut.
  3. Stabilitas ekonomi global. Banyak ekonom yang melihat ekonomi global akan stabil di 2014 dan ini bisa mengundang masuknya sentimen minat terhadap resiko atau risk appetite sehingga para investor lebih berani masuk ke sektor atau instrumen yang lebih beresiko namun memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan aset aman.

Dengan faktor yang bisa mempengaruhi pergerakan pasar keuangan di atas, harga emas di 2014 kemungkinan akan cenderung sideways dan turun. Harga bisa kembali mengalami tekanan turun lagi.

Proyeksi Harga Emas 2014

Proyeksi Harga Emas 2014

Sumber grafik: Thomson Reuters

Bila menilik dari indikator teknikal yaitu MACD (12, 26, 9) dan indikator Stochastics (14, 3, 3) di grafik bulanan, keduanya masih menunjukkan adanya tekanan turun bagi harga emas. Harga berpotensi menyentuh angka $ 1050 per troy ons (sekitar level terendah tahun 2010) dan ini mungkin bisa terjadi pada semester pertama 2014. Sementara tekanan turun bisa berkurang jika harga malah berhasil kembali ke atas $1370 per troy ons.