Home > forex, Global Economy > Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed

Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed

Sepanjang tahun 2015, para pelaku pasar telah menantikan keputusan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Penantian tersebut akhirnya terpenuhi. Keputusan tersebut baru datang di penghujung tahun 2015. Fed akhirnya menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat moneter di bulan Desember lalu untuk yang pertama kali dalam 10 tahun. Dan suku bunga Fed sudah sejak 2008 berada di kisaran 0-0.25%.

Kenaikan suku bunga acuan AS ini tidak disambut dengan penguatan dollar AS yang berlebihan. Indeks Dollar AS mengalami penguatan terbatas ke area 99.29. Setelahnya indeks Dollar AS berbalik melemah, bergerak dalam tren turun ke kisaran 98. Rupiah pun bisa kembali menguat terhadap Dollar AS menyentuh kembali kisaran Rp.13560 dari sebelumnya di atas Rp.14000. Harga emas juga kembali menguat ke kisaran $1080 per troy ons dimana sebelumnya tertekan di kisaran $1047 per troy ons.

Fed Fund Rate graph

Grafik Pergerakan Tingkat Suku Bunga Acuan AS 2006-2015, Sumber: Tradingeconomics.com

Mengapa hal itu terjadi? Rupanya pasar mulai mencerna pernyataan yang dikeluarkan oleh Gubernur Federal Reserve, Janet Yellen pasca keputusan. Yellen mengungkapkan bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru untuk menaikan suku bunga lagi. Fed memperkirakan target suku bunga acuan AS di 2016 ada di kisaran 1.25-1.50% atau sekitar 100 basis poin dibandingkan level saat ini. Kisaran 100 basis poin ini berarti Fed kemungkinan akan menaikan tingkat suku bunga sebanyak 4 kali di tahun 2016.

Namun para pelaku pasar, yang disurvei oleh beberapa media keuangan, memperkirakan target suku bunga akan di bawah level perkiraan Fed. Mengingat pengalaman di tahun 2015 dimana para pelaku pasar cukup lama menantikan kenaikan suku bunga AS yang pertama, para pelaku pasar memperkirakan Fed mungkin tidak akan menaikan suku bunga sebanyak 4 kali, tapi mungkin paling banyak 2 kali atau sekitar 50 basis poin. Keraguan para pelaku pasar yang terlihat dalam survei-survei media tersebut membuat penguatan Dollar AS terbatas.

Akan tetapi, hal ini tidak serta merta membuat Dollar AS melemah tajam. Potensi kenaikan lanjutan suku bunga akan membatasi pelemahan Dollar AS. Pasar juga melihat perekonomian AS bertumbuh ke arah yang positif dan mampu meredam penguatan suku bunga. GDP AS kuartal ke 3 tumbuh di kisaran 2,1%, dan rata-rata pertumbuhan GDP 2015 2,2% per kuartal, mendekati rata-rata pertumbuhan GDP tahun 2014 yang 2,5% per kuartal. Ini jauh lebih bagus dibandingkan rata-rata pertumbuhan GDP AS tahun 2013 yang hanya 1,5% per kuartal. Selain itu, ekonomi AS juga ditopang oleh tingkat pengangguran yang terus menurun. Tingkat pengangguran AS sempat berada di dekat angka 8% dan kini sudah berada di kisaran 5% dan mungkin bisa mencapai 4,7% di tahun 2016. Jumlah orang yang dipekerjakan semakin banyak akan memutar roda perekonomian AS dengan cepat sehingga pertumbuhan GDP bisa lebih tinggi.

Satu indikator ekonomi yang menjadi pertimbangan penting Fed yang bisa menghambat kenaika