Archive

Archive for May, 2014

Currency War Bank Sentral G7

currency-logo

Di awal tahun 2014 lalu, terkesan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed), Inggris (BoE), Kanada (BoC) lebih condong akan mengubah kebijakan moneternya ke arah pengetatan. Namun belakangan ini, ketiga bank sentral berusaha meredam ekspektasi pasar tersebut. Sementara Bank Sentral Jepang (BoJ) dan Eropa (ECB) memang masih terlihat mendukung pelonggaran moneter sejak tahun lalu.

Fed sudah memutuskan pengurangan stimulus (tapering) di akhir 2013 dan kebijakan tapering ini pun berlanjut di tahun 2014. Dari sebelumnya program pembelian aset sebesar $85 milyar setiap bulannya, kini tinggal $45 milyar. Bahkan Fed berancang-ancang akan meniadakan stimulus di akhir tahun 2014 ini dan mungkin akan memulai kenaikan suku bunga pada pertengahan 2015. Namun belakangan ini melalui Janet Yellen (Gubernur Fed), Fed menyatakan masih perlunya dukungan kebijakan pelonggaran moneter untuk perekonomian AS.

Adapun Bank Sentral Inggris sejak akhir tahun lalu sudah dianggap sebagai bank sentral G7 yang akan pertama kali menaikan suku bunga. Ini karena data-data ekonomi Inggris cukup memuaskan. Terutama tingkat pengangguran yang pernah dijadikan acuan oleh BoE, sudah turun menjadi 6,9% di bawah ambang batas 7% yang ditetapkan BoE sebagai syarat untuk mengubah kebijakan moneter menjadi lebih ketat. Dan di kuartal ke-2 tahun 2015, BoE diperkirakan akan menaikan suku bunga. Namun para pejabat BoE secara verbal mengatakan bahwa Inggris masih memerlukan kebijakan pelonggaran moneter hingga pemulihan ekonomi berlangsung stabil. BoE juga belum akan menghilangkan program pembelian aset sebesar 375 milyar pound hingga tingkat suku bunga acuan mulai dinaikan.

Kanada dengan pertumbuhan GDP dan tingkat inflasi dalam tren yang positif membangun ekspektasi pasar bahwa BoC akan mulai memikirkan kebijakan pengetatan moneter. Namun BoC menegaskan bahwa kebijakan pengetatan moneter belum akan terjadi dalam waktu dekat meskipun pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari ekspektasi semula. Selain itu BoC memandang bahwa tingkat inflasi masih di bawah target paling tidak hingga 2016.

Komitmen pada pelonggaran moneter tentu saja berimplikasi pada pelemahan nilai tukar masing-masing. Nah, dengan ke-5 bank sentral menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pelonggaran moneter menimbulkan kesan seakan-akan mereka lebih senang mata uangnya melemah dan ini diam-diam menimbulkan perang mata uang (currency war). Nilai tukar yang lemah memang dibutuhkan di negara G7 yang sedang dilanda tingkat inflasi yang rendah yang berpotensi menuju deflasi.

Dengan kecenderungan kebijakan moneter yang sama, pergerakan nilai tukar akan ditentukan oleh rilis data-data ekonomi yang menjadi indikator kesehatan ekonomi dan mungkin bisa mengubah arah kebijakan moneter ke depannya. Mana data ekonomi yang menunjukkan hasil yang lebih baik, mata uang itu yang akan menguat dibandingkan mata uang lainnya. Jadinya pergerakan nilai tukar akan rentan dengan data-data ekonomi baru yang akan dirilis di kemudian hari.

Jadwal rilis data-data ekonomi penting bisa dilihat di sini: http://www.monexnews.com/calendar/homeCalendar.htm.

Twitter: @aristontjendra