Home > Global Economy > Tapering Semakin Jelas

Tapering Semakin Jelas

Bank Sentral Amerika Serikat (Fed) mengalami pergantian pucuk pimpinan pada awal tahun ini. Janet Yellen sudah menjadi Gubernur Bank Sentral AS menggantikan Ben S. Bernanke yang tidak ingin dicalonkan kembali. Para pelaku pasar sempat bertanya-tanya bagaimana kebijakan Bank Sentral AS selanjutnya di tangan Yellen. Apakah akan ada perubahan yang drastis atau tidak.

Yellen selama ini dipandang sebagai orang yang berpihak pada pelonggaran moneter untuk membantu pemulihan ekonomi AS. Di saat Fed bersiap untuk mengganti arah kebijakan menjadi lebih ketat, para pelaku pasar meragukan Yellen akan mendukung kebijakan tersebut.

Namun dari testimoni pertama Yellen di hadapan komite keuangan parlemen AS yang pertama di masa jabatannya, Yellen tidak terindikasi akan melakukan perubahan yang drastis pada kebijakan moneter bank sentral. Yellen akan tetap mendukung arah kebijakan yang kini sedang dipersiapkan bank sentral.

Fed sedang mempersiapkan kebijakan exit atau keluar dari kebijakan stimulus dengan kebijakan tapering. Dan Yellen mendukung hal tersebut meskipun Yellen tetap memberikan penekanan bahwa apa yang dilakukan Fed saat ini bukanlah kebijakan pengetatan karena Fed masih menyuntikan stimulus meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit. Fed pun belum akan menaikan suku bunga paling tidak hingga awal tahun 2015.

Para pelaku pasar tampaknya belum yakin kalau Fed akan melanjutkan kebijakan tapering pada rapat-rapat moneter –FOMC (Federal Open Market Committee) ke depannya. Ini terbukti dari pergerakan indeks dollar AS yang tertekan turun saat data-data ekonomi AS dirilis lebih buruk dari prediksi pasar. Pasar menganggap bahwa Fed akan menghentikan program tapering-nya bila data-data ekonomi AS memburuk. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Fed memang masih mempertimbangkan angka-angka statistik perekonomian AS dalam pengambilan keputusannya terutama data tenaga kerja dan inflasi.

Pada rapat FOMC yang terakhir dipimpin oleh Bernanke, yakni pada akhir Januari 2014 lalu. Fed kembali memutuskan penerapan tapering dengan memotong pemberian stimulus sebesar $10 milyar lagi sehingga total pembelian aset untuk Bulan Februari sebesar $65 milyar. Dan pasar akan menantikan keputusan baru dari Fed pada pertengahan Maret nanti dimana kali ini Janet Yellen akan memimpin rapat FOMC untuk pertama kalinya. Pasar masih menantikan apakah tapering akan kembali diterapkan.

Dari notulen rapat (minutes) FOMC Bulan Januari 2014 yang dirilis ke publik terungkap kemungkinan besar Fed akan melanjutkan kebijakan tapering. Beberapa indikasi terlihat dari diskusi yang terjadi dalam rapat pengambilan keputusan tersebut yaitu di antaranya:

  1. Pasar tenaga kerja AS masih bergerak ke arah yang lebih baik meskipun Non-farm Payrolls pada Desember 2013 turun sangat jauh dari data bulan sebelumnya, 74 ribu vs 241 ribu. Penurunan ini terutama disebabkan cuaca dingin ekstrim yang berlangsung di AS.
  2. Tingkat inflasi masih rendah di bawah target Federal Reserve 2%. Namun inflasi bisa naik secara gradual dalam jangka menengah.
  3. Pertumbuhan ekonomi memang belum stabil namun para petinggi Fed melihat ekonomi AS masih akan bertumbuh secara moderat pada kuartal-kuartal yang akan datang.
  4. Volatilitas di beberapa emerging market baru-baru ini tidak berdampak signifikan terhadap outlook ekonomi AS ke depannya.
  5. Beberapa pejabat bank sentral terindikasi menginginkan tapering sebesar $10 milyar dilakukan dalam setiap rapat FOMC ke depannya.
  6. Sebagian kecil peserta membuka kemungkinan suku bunga acuan bank sentral dinaikan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Bahkan ada satu anggota yang membuka kemungkinan suku bunga dinaikan sebelum pertengahan tahun ini.
US Inflation Rate Below 2% Fed's Target. Source: Tradingeconomics.com

US Inflation Rate Below 2% Fed’s Target. Source: Tradingeconomics.com

 

US Unemployment Rate Receding Near 6.5%. Sumber: Tradingeconomics.com

US Unemployment Rate Receding Near 6.5%. Sumber: Tradingeconomics.com

Optimisme Fed yang terekam pada notulen rapat FOMC membangun persepsi di pasar bahwa Fed akan melanjutkan program tapering hingga stimulus berakhir tahun ini. Setelah itu, Fed baru berkonsentrasi ke perubahan suku bunga yang baru mungkin terjadi di 2015. Yellen dalam testimoninya telah menegaskan bahwa Fed masih belum akan membicarakan soal kenaikan suku bunga saat ini. Meskipun tingkat pengangguran sudah menembus ke bawah angka 6,5% pun, suku bunga belum tentu akan dinaikan. Perekonomian AS masih membutuhkan kebijakan moneter yang longgar untuk mempertahankan pemulihan ekonominya.

Fed kemungkinan besar masih akan melanjutkan kebijakan tapering pada rapat FOMC di Bulan Maret ini. Besaran tapering pun kemungkinan tidak melebihi angka $10 milyar. Fed tidak akan tergesa-gesa menghentikan program stimulusnya karena belum melihat pemulihan ekonomi AS yang stabil. Walaupun persentase kemungkinan tapering pada rapat di Bulan Maret semakin besar, para pelaku pasar tentu tidak akan mengabaikan perkembangan data-data ekonomi AS yang akan dirilis sebelumnya karena Fed masih mempertimbangkan perkembangan data-data ekonomi AS dalam mengambil keputusan dan bisa mengubah keputusannya bila data-data yang dirilis jauh di bawah perkiraan.

Dengan tapering yang semakin jelas ini tentunya dampak dari keputusan ini ke pasar keuangan akan tidak terlalu besar karena pasar telah mengantisipasi hal tersebut. Yang akan berdampak besar yaitu bila Fed tidak jadi melakukan tapering atau jumlah tapering-nya hanya setengah dari biasanya. Apapun hasil Fed nanti, para pelaku pasar tentu akan bersiap dengan segala kemungkinan.

Twitter: @aristontjendra

www.monexnews.com

  1. No comments yet.