Home > Global Economy > Taper, No Taper?

Taper, No Taper?

Bank sentral AS pada rapat tanggal 17-18 September waktu AS secara mengejutkan tidak mengeluarkan keputusan tapering /pengurangan stimulus moneter dengan alasan bahwa data tenaga kerja dan inflasi AS belum sesuai dengan harapan bank sentral AS. Padahal data tingkat pengangguran AS sudah membaik, sudah dalam tren penurunan sepanjang tahun ini dari 7,9% di awal tahun menjadi 7,3% di bulan Agustus ini. Sementara tingkat inflasi y/y sudah mendekati angka 2% pada bulan Juli.

Tekanan dari negara-negara berkembang pada forum  G20 bisa jadi merupakan salah satu penyebab Fed enggan menerapkan kebijakan tapering di September. Pada forum G20 itu, para perwakilan negara berkembang mengungkapkan dampak negatif dari isu tapering bank sentral terhadap perekonomian kepada AS.

Keputusan No tapering ini memberikan kelegaan bagi negara-negara berkembang. Pelemahan nilai tukar menjadi tertahan dan bursa saham bisa kembali rebound. Ini bisa dijadikan kesempatan bagi negara berkembang untuk memperbaiki indikator-indikator ekonominya dan mengembalikan kepercayaan investor.  

Ruang yang diberikan oleh bank sentral AS ini bukanlah permanen. Bank sentral AS masih membuka peluang pengurangan stimulus. Program stimulus Fed pasca krisis 2008 telah menaikan neraca Fed dari di bawah $1 triliun sebelum krisis 2008 menjadi $3,7 triliun saat ini dan terus membengkak selama stimulus digelontorkan. QE 3 saja yang $85 miliar per bulan bisa menambah neraca menjadi $1 triliun dalam 1 tahun. Kenaikan neraca Fed ini merupakan beban bagi bank sentral yang bila terlalu besar bisa membuat Fed kesulitan untuk menurunkan neraca ini. Stimulus yang besar juga akan berdampak negatif bagi perekonomian bila dijalankan terlalu lama. Hiper inflasi dan bubble baru yang merugikan perekonomian bisa terjadi.  Jadi kebijakan stimulus ini tidak akan ditahan terlalu lama oleh Fed.

Peluang tapering pada bulan-bulan mendatang membuat pasar kembali diliputi ketidakpastian. Isu yang kembali membesar ini bisa menggerogoti kembali bursa saham, harga komoditas dan nilai tukar terhadap dollar. Volatilitas tinggi akan terjadi saat data-data ekonomi AS akan dirilis terutama data tenaga kerja, inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Pidato-pidato dari para pejabat bank sentral AS pun akan menjadi pusat perhatian pasar dan juga bisa menjadi market mover.

Jadwal data ekonomi AS bisa dilihat di http://www.monexnews.com/economic-calendar/hari-ini.htm dan jadwal rapat bank sentral AS bisa dilihat di http://www.monexnews.com/calendar/central-bank-meeting.htm

  1. No comments yet.