Home > Global Economy > Menerka Keputusan The Fed Di Bulan September

Menerka Keputusan The Fed Di Bulan September

Telah santer diisukan bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve akan melakukan pengurangan stimulus tahun ini dan paling cepat akan dilakukan pada bulan September. Isu yang muncul ini membuat pasar bergejolak dan menimbulkan kekhawatiran berkurangnya likuiditas pasar. Isu yang beredar ini juga membuat para pelaku pasar memberikan perhatian yang lebih pada data-data ekonomi AS yang akan dirilis.

Isu pengurangan stimulus moneter (atau sering disebut “tapering”) mulai berhembus kencang saat notulen rapat kebijakan moneter the Fed bulan Maret dirilis pada awal April lalu. Dalam notulen tersebut dijelaskan bahwa beberapa pejabat Fed mengemukakan pandangan jika outlook kondisi pasar tenaga kerja membaik seperti yang diperkirakan, maka dimungkinkan mengurangi pembelian aset pada tahun ini dan menghentikannya di akhir tahun. Rilisan notulen rapat tersebut sempat diwarnai insiden salah kirim dimana secara tidak sengaja staf bank sentral merilis notulen ke beberapa anggota parlemen sehari sebelum jadwal rilisan notulen rapat. Setelah menyadari kekeliruannya, Fed memutuskan untuk memajukan jadwal rilisan stimulus menjadi jam 9 pagi dari sebelumnya jam 2 sore waktu setempat.

Isu pengurangan stimulus juga pernah dikaitkan dengan masa kerja Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke yang akan berakhir tahun depan. Sehingga sebagian pelaku pasar berasumsi bahwa proses pengakhiran stimulus akan dimulai sebelum akhir masa kerja Bernanke untuk memberikan arah bagi gubernur selanjutnya.

Tapering ini menimbulkan kesan di pasar akan terjadi pengetatan kebijakan moneter di AS dalam waktu dekat. Pengetatan stimulus berpotensi terjadi pengurangan likuiditas di pasar keuangan. Nilai tukar dollar AS bisa lebih kuat dan harga-harga instrumen keuangan bisa mengalami koreksi akibat pengurangan likuiditas. Kawasan yang dikenal dengan emerging markets (negara berkembang) seperti Indonesia, Philipina, Thailand, Brazil, India pun tidak luput dari imbas negatif kekhawatiran pasar akan pengurangan stimulus. Nilai tukar mata uang kawasan ini melemah terhadap dollar AS dan pasar sahamnya dilanda aksi jual. Hot money terlihat ingin keluar dari kawasan ini untuk sementara waktu.

Seiring dengan gencarnya isu pengurangan stimulus, pasar mulai memperhatikan data-data ekonomi AS yang akan dirilis dan bereaksi terhadap hasil rilisan data-data tersebut. Para pelaku pasar juga memperhatikan dengan seksama pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh para pejabat Federal Reserve seperti pernyataan dari Gubernur Ben Bernanke dan para presiden wilayah bank sentral AS.

Data-data ekonomi AS yang dirilis beberapa bulan terakhir menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Data tenaga kerja dan data inflasi yang menjadi sorotan termasuk data ekonomi yang menunjukkan perbaikan. Tingkat pengangguran AS saat ini tercatat di level 7,4%, turun dari bacaan bulan April yang sebesar 7,6%. Angka klaim tunjangan pengangguran mingguan pun sempat mendekati level terendah dalam 6 tahun di 320 ribu klaim yang menunjukkan situasi pasar tenaga kerja memang dalam proses membaik. Sementara data inflasi yang diwakili oleh data CPI-U (CPI for All Urban Consumers) telah mencapai angka 2,0%. Angka 2,0% ini juga merupakan target inflasi Federal Reserve AS. Data PMI manufaktur dan non-manufaktur AS yang disurvei oleh ISM (Institute for Supply Management) juga mengalami kenaikan. PMI manufaktur yang tercatat untuk bulan