Archive

Archive for February, 2013

Dollar AS Masih Jadi Favorit

February 27th, 2013 No comments

Dollar AS kembali menguat sepanjang Februari 2013 lalu. Indeks dollar per 20 Februari tercatat mengalami kenaikan sebesar 2.28% dibandingkan penutupan Januari 2013. Penguatan dollar AS ini menunjukkan bahwa aset dollar masih menjadi favorit investasi bagi para pelaku pasar.

 

Tabel Net Change

Sumber: Thomson Reuters, www.monexnews.com

Pada bulan Januari 2013, dollar mengalami pelemahan sejak kesepakatan fiscal cliff tercapai di Amerika Serikat. Pelemahan dollar AS ini mengikuti perubahan sentimen di pasar keuangan dimana para pelaku pasar mulai beralih ke instrumen-instrumen yang lebih berisko dan memberikan imbal hasil yang lebih tinggi (risky asset). Ini bisa terlihat dari kenaikan indeks-indeks saham baik di AS, Asia bahkan Eropa yang sedang krisis. Selain itu beberapa komoditi logam dan energi juga mengalami kenaikan.

Sumber: Monex Trader MT4, www.mifx.com

Minat para pelaku pasar tersebut terhadap aset beresiko disebabkan oleh persepsi bahwa perekonomian sudah mulai menunjukkan pemulihan yang stabil, apalagi negara perekonomian terbesar dunia, AS, telah berhasil menyelesaikan masalah jurang fiskal yang membelitnya. Data-data ekonomi kawasan yang masih terlanda krisis, Eropa, sepanjang periode tersebut juga menunjukkan perbaikan terutama data aktivitas manufaktur dan sektor jasanya.

Akan tetapi memasuki pertengahan Februari, euforia risk sentiment terlihat mulai memudar. Dollar AS mulai kembali menunjukkan taringnya. Dollar AS seakan tidak kehilangan peminat. Beberapa faktor yang menyebabkan dollar AS kembali menguat.

Yang pertama adalah persepsi yang positif dari para pelaku pasar terhadap pemulihan kesehatan ekonomi AS. Data-data ekonomi AS yang dirilis antara Januari dan Februari lalu menunjukkan tanda-tanda pemulihan.  Hal ini berbeda dengan data-data ekonomi negara-negara di Eropa. Ternyata pemulihan ekonomi belum tampak di kawasan tersebut yang artinya efek dari krisis hutang itu tergambarkan pada kondisi kesehatan ekonomi yang buruk. Alhasil persepsi yang positif terhadap AS ini membuat aset-aset dollar tetap diminati para pelaku pasar. (tabel perbandingan data ekonomi)

Faktor kedua adalah prospek kebijakan stimulus dari bank sentral AS. Dari notulen atau minutes rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (Fed) pada tanggal 29-30 Januari 2013 menunjukkan bahwa ada perdebatan mengenai efektifitas stimulus yang digelontorkan saat ini dalam membantu pemulihan ekonomi AS. Evaluasi program stimulus akan dilakukan dan hasil evaluasi ini bisa bermuara pada dihentikannya program stimulus tanpa menunggu perkembangan bagus dari situasi tenaga kerja di AS. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Gubernur Fed, Ben Bernanke, sebelumnya pada rapat kebijakan moneter Januari bahwa Fed akan tetap mempertahankan program stimulus pembelian obligasi sampai target tingkat pengangguran 6,5% tercapai.

Stimulus dapat diartikan penambahan likuiditas di pasar. Bila dilakukan Fed, berarti likuiditas dollar akan bertambah di pasar. Dan sebaliknya bila stimulus ditarik, berarti likuiditas dollar akan berkurang. Dan bila likuiditas berkurang akan mengakibatkan dollar AS menguat. Persepsi yang terbentuk di kalangan pelaku pasar saat ini setelah membaca notulen Fed adalah stimulus akan segera ditarik sehingga menimbulkan reaksi penguatan dollar AS.

Yang ketiga adalah kebijakan stimulus masih gencar dilakukan oleh bank-bank sentral negara dengan perekonomian besar di dunia seperti Bank Sentral Jepang, Eropa, Inggris dan Australia. Dengan kontraksi ekonomi yang terjadi di negara-negara besar ekonomi, bank-bank sentral masih dan bahkan menambah program stimulus untuk membantu memulihkan perekonomian.

Contohnya, Bank Sentral Jepang yang mengubah kebijakan menjadi lebih agresif dalam pemberian stimulus untuk mengeluarkan Jepang dari masa deflasi. Apalagi program ini sejalan dengan program pemerintahnya yang juga menjalankan kebijakan stimulus. Gabungan stimulus fiskal dan moneter ini membantu melemahkan yen terhadap dollar AS dan mata uang lainnya. Data ekonomi Eropa dan Inggris yang masih buruk akibat krisis hutang membuat bank sentral masing-masing masih menerapkan kebijakan moneter yang longgar. Bahkan Bank Sentral Inggris diproyeksikan akan menambah program pembelian asetnya. Sementara Bank Sentral Australia memberikan isyarat tidak akan menaikan suku bunga, malah mungkin akan menurunkan suku bunga. Kuatnya nilai dollar Australia dianggap bisa melukai perekonomian Australia. Kebijakan stimulus yang gencar dijalankan bank-bank sentral di luar Fed membantu menguatkan nilai dollar AS karena mata uang lainnya terdepresiasi akibat kebijakan tersebut.

Selama ketiga faktor di atas masih bertahan, dollar AS masih akan tetap menjadi favorit. Status aset dollar AS sebagai safe haven juga menjadikan nilai dollar bertambah kuat di kala kekhawatiran melanda para pelaku pasar karena ketidakpastian yang meninggi di pasar atau terjadi krisis ekonomi global.

twitter: @aristontjendra

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Emas Tak Bertenaga

February 7th, 2013 No comments

Kita melihat indeks-indeks saham seperti indeks saham BEI, Dow Jones, Hangseng, Nikkei mengalami kenaikan di bulan Januari yang lalu dibandingkan dengan penutupan bulan Desember. Harga komoditas seperti perak, minyak mentah NYMEX, CPO Malaysia juga menguat di bulan yang sama. Sentimen risk appetite mendorong kenaikan harga, namun sentimen ini tidak mampu mendongkrak harga emas. Harga emas spot malah mengalami penurunan meski kecil.

Instrument

Net Change

Closing Dec 2012-Closing Jan 2013

(%)

Hang Seng Index 4.73
Nikkei 225 Index 7.15
Dow Jones Industrial Average Index 5.77
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 3.17
Silver spot

3.63

Crude Oil WTI

6.15

CPO Bursa Malaysia

4.88

Gold spot

-0.68

Sumber: www.monexnews.com

Kenapa emas terasa tidak berotot? Tercapainya deal soal fiscal cliff pada awal tahun lalu sebenarnya memberikan dorongan naik bagi harga emas hingga mencapai level $1696 per troy ons. Tapi kelihatannya seiring dengan membaiknya sentimen risk appetite (minat terhadap resiko) yang disebabkan oleh meredanya kekhawatiran krisis Eropa, membaiknya data-data ekonomi di negara-negara dengan ekonomi besar di dunia seperti Amerika Serikat, Jerman, China dan Jepang serta adanya pelonggaran moneter yang lebih agresif dari bank sentral Jepang dan bagusnya laporan pendapatan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Wall Street dan bursa lainnya, membuat fokus investasi para pemodal beralih ke produk-produk keuangan yang lebih beresiko yang menghasilkan yield lebih tinggi. Dan emas pun mulai ditinggalkan.

Lalu bagaimana kira-kira pergerakan emas selanjutnya? Kalau melihat grafik harga emas, potensi penguatan harga emas masih cukup aman dengan harga bisa bertahan di atas garis tren naik (uptrend) yang ditarik dari level terendah 28 Januari 2013 dan level terendah 4 Februari 2013 kemudian diperpanjang ke atas. Kira-kira di sekitar level 1668 saat ini. Potensi penguatan bisa ke area garis downtrend di sekitar level 1690 lagi dalam jangka pendek.

 

Grafik Emas Harian (7 Feb 2013)

Sumber: Monex Meta Trader

Sentimen risk appetite yang kini menghampiri pasar lambat laun juga akan mengerek harga emas naik. Mengingat emas juga adalah salah satu instrumen investasi. Hanya saja para pelaku pasar lebih memprioritaskan memindahkan portofolionya ke instrumen yang lebih beresiko.

Tapi kalau kita lihat peta besarnya, pergerakan emas ini masih berada di dalam downtrend channel. Jadi tekanan turun masih membayangi pergerakan emas ini. Bila garis uptrend yang terlukis tadi pada grafik terpenetrasi ke bawah, potensi pelemahan makin membesar, dan emas bisa menguji kembali level terendah 4 Januari 2013 di 1625.

 

Grafik Emas Harian (7 Feb 2013)

Sumber: Monex Meta Trader

twitter:@aristontjendra