Archive

Archive for October, 2012

Harga Emas Selalu Naik?

October 25th, 2012 No comments

Kalau melihat pergerakan harga emas sejak akhir 2008, memang harga emas terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun dari level sekitar $860 per troy ons hingga mencapai puncaknya pada September 2011 di $1920 per troy ons (mengalami kenaikan sekitar 123%). Apalagi kalau membandingkan harga emas saat ini dengan harga emas belasan tahun yang lampau, emas sudah naik sekitar 475%! Kenaikan yang terus berlangsung selama 3 tahun terakhir membuat euforia di masyarakat dan menarik banyak minat untuk membeli emas.

Grafik Harga Emas 1974-2012

Sumber Grafik: Thomson Reuters

Anggapan bahwa harga emas selalu naik tentu menarik minat banyak orang untuk membeli emas. Tapi apakah emas memang selalu naik? Bila kita melihat grafik harga emas dari 1974-2012 di atas, ternyata kenaikan harga emas tidak semulus jalan tol. Ada masa dimana harga emas mengalami koreksi dalam atau bergerak mendatar. Sebelum tahun 1980, harga emas bergerak mendatar di kisaran $200 per troy ons. Demikian pula pada kurun waktu 1980-2005 harga emas bergerak bolak balik antara level $250-an hingga $800-an per troy ons.

Setiap pergerakan naik harga emas selalu diikuti gerakan koreksi, seperti yang dirangkum dalam tabel di bawah ini:

Tabel Penurunan Harga Emas Kurun Waktu 1980-2012

Jadi melihat dari sejarah pergerakan harga emas, kita tidak bisa mengesampingkan adanya penurunan harga emas dalam jangka pendek. Menurut catatan pada tabel, penurunan harga emas ada yang berlangsung 1 bulan hingga 5 tahun dengan penurunan yang bervariasi antara 20,78% hingga 64,55%.

Fluktuaksi harga emas sebenarnya bisa diredam jika kita berorientasi jangka panjang dalam membeli emas, khususnya logam mulia. Tapi cara ini tidak serta merta menghilangkan resiko kerugian, tapi paling tidak bisa memperkecil resiko. Dalam berinvestasi, kita tidak bisa menghilangkan resiko, tapi kita bisa me­­­-manage resiko.

Kita juga bisa memperkecil resiko kita dengan membeli kontrak berjangka emas untuk melakukan hedging posisi. Misalnya kita membeli logam mulia (LM) sebanyak 100 gram atau 250 gram dengan harga per gramnya 500 ribu rupiah lalu kita membeli kontrak jual emas dari Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau pun Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) untuk 100 gram atau 250 gram dengan harga per gram 560 ribu. Berarti keuntungan kita sudah dikunci sebesar 60 ribu per gram meskipun harga bergerak naik atau turun. Kerugian untuk langkah ini, bila harga melesat ke 600 ribu per gram, keuntungan kita tetap 60 ribu per gram.

Contoh lain misalnya pergerakan harga emas terus turun hingga 500 ribu rupiah tapi kita sudah membeli LM sebanyak 100 gram atau 250 gram dengan harga per gramnya 540 ribu. Karena kita khawatir harga akan turun lagi, kita bisa membeli kontrak jual emas di BBJ atau BKDI untuk 100 gram atau 250 gram dengan harga per gram 500 ribu. Sehingga meski harga turun lagi ke 480 ribu, kerugian kita sudah terkunci di 40 ribu per gram. Bila harga kembali naik, kita bisa menjual kontrak jual tersebut dan tetap memegang LM-nya.

Pergerakan naik turun harga emas juga bisa dimonetisasi dengan melakukan perdagangan Gold Spot yang diperdagangkan dengan Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) atau yang dikenal dengan online trading emas (Keterangannya bisa dilihat di www.mifx.com/trading_products/80/Emas_XAU_.php#) dimana saat emas turun, kita bisa membuka posisi jual terlebih dahulu atau membeli kontrak jual lalu menutup/melikuidasi posisi/kontrak tersebut untuk mendapatkan keuntungan ketika harga turun lebih dalam dan sebaliknya di saat emas naik, kita bisa membuka posisi beli terlebih dahulu atau membeli kontrak beli lalu menutup/melikuidasi posisi/kontrak tersebut untuk mendapatkan keuntungan ketika harga naik lebih tinggi.

Tapi sekali lagi, apapun investasinya kita tidak bisa menghilangkan resiko. Jadi kita harus pintar-pintar untuk mengelola resiko. Kapan kita harus masuk pasar, keluar dari pasar, mengambil keuntungan, dan memangkas kerugian.

Pengaruh Stimulus Fed Terhadap Pergerakan Harga Emas

October 4th, 2012 13 comments

Kalau kita menilik pergerakan harga emas pada grafik, kita akan mendapati bahwa pergerakan harga emas berkorelasi positif dengan stimulus yang dikeluarkan oleh Federal Reserve Amerika Serikat.

Dalam usahanya membantu pemulihan ekonomi di Amerika Serikat, The Fed, sebutan untuk bank sentral AS mengeluarkan kebijakan-kebijakan moneter yang non-konvensional yang sifatnya stimulatif. Angkanya pun tidak main-main, ratusan miliar dollar bahkan sampai triliunan dollar. Jumlah yang fantastis itu dimaksudkan agar kebijakannya benar-benar memberikan dampak yang besar di perekonomian AS.

Kebijakan stimulatif ini berujung pada peningkatan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Seperti dua sisi mata uang, ada sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah masyarakat mendapatkan akses untuk memperoleh dana murah untuk diputar dalam bisnis dan investasi. Sisi negatifnya banyaknya uang yang beredar akan meningkatkan permintaan barang dan akhirnya menaikan inflasi.

Sejak krisis keuangan yang terjadi di AS pada tahun 2008, The Fed telah mengeluarkan berbagai kebijakan moneter baik yang konvensional maupun non-konvensional untuk mempercepat pemulihan ekonomi di AS. Kebijakan yang dikeluarkan bernuansa pelonggaran moneter yang bertujuan memperluas dan mempermudah akses masyarakat memperoleh pembiayaan untuk memutar roda perekonomian. The Fed memangkas suku bunga acuan hingga mendekati 0% dan berusaha menekan suku bunga kredit perumahan yang ketika itu menjadi pokok permasalahan dengan mengeluarkan kebijakan non-konvensional pelonggaran kuantitatif (quantitative easing – QE).

Krisis yang luar biasa hebat membuat Fed tidak cukup hanya mengeluarkan kebijakan yang biasa-biasa saja sehingga dikeluarkanlah kebijakan yang di luar kebiasaan. Kebijakan yang luar biasa ini menyuntikan dana yang luar biasa besar ke pasar. Yang otomatis menambah jumlah uang yang beredar dan ini mendepresiasi nilai dollar AS. Likuiditas yang berlebih ini dimanfaatkan para pelaku pasar untuk melakukan investasi di pasar keuangan seperti pembelian saham, obligasi, kontrak komoditi, dll. Dan ini berimbas pada kenaikan indeks saham, harga komoditi dan portofolio yang menjanjikan imbal hasil tinggi lainnya.

Emas yang termasuk dalam kategori komoditi mendapatkan imbas positif dari stimulus Fed. Pada pelaksanaan QE yang pertama, yaitu periode Januari 2009 – Maret 2010 dengan suntikan stimulus sebesar 1,25 triliun dollar, harga emas melejit sebesar 27,4%. Demikian juga dengan QE yang ke-2, harga emas menguat 5,9% selama periode November 2012 – Juni 2011. Sementara QE 3 yang baru diluncurkan September 2012 lalu, harga emas masih menunjukkan reaksi yang positif.

Lain halnya dengan kebijakan operation twist. Kebijakan ini tidak menambah uang beredar tapi hanya menukar kepemilikan obligasi jangka pendek dengan jangka yang lebih panjang sehingga dapat mempertahankan suku bunga jangka panjang tetap rendah. Oleh karena itu, operation twist ini tidak memberikan pengaruh positif terhadap penguatan harga emas.

Tabel Kebijakan Non-Konvensional Fed - Harga Emas

Sumber: www.federalreserve.gov, www.monexnews.com

Sejak pertengahan 2011, para pelaku pasar terus berspekulasi dan berekspektasi akan dikeluarkannya kebijakan QE yang baru menyusul berakhirnya QE ke-2 pada Juni 2011. Namun hal tersebut tidak direalisasikan oleh Fed  saat itu dan Fed menggantinya dengan program operation twist pada September 2011. Alhasil, tidak ada kenaikan harga emas melebihi rekor tertinggi emas sepanjang masa di 1920 dollar per troy ons yang dicetak pada awal September 2011. Harga emas malah turun sebesar 14,9% selama periode operation twist yang pertama (September 2011- Juni 2012).

Sumber: Platform Trading MT4 www.mifx.com

Saat Fed meluncurkan QE ke-3, harga emas berhasil keluar dari area konsolidasi dan terus menguat hingga saat ini. Kali ini The Fed  tidak memberikan batasan waktu berakhirnya kebijakan pelonggaran kuantitatif, tidak seperti dua kebijakannya yang terdahulu. The Fed memberikan batasan bahwa kebijakan tersebut akan terus dijalankan selama kondisi tenaga kerja di AS tidak menunjukan pemulihan. Selama itu, The Fed akan terus membeli surat berharga yang berbasis kredit perumahan sebesar 40 milyar dollar per bulan dengan “mencetak uang yang baru”. Tidak ada patokan atau angka yang jelas mengenai kondisi tenaga kerja yang dianggap sudah pulih. Namun salah satu Presiden Federal Reserve Bank, Charles Evans, mengatakan bahwa Fed akan terus menjalankan kebijakan QE hingga tingkat pengangguran AS mencapai angka di bawah 7% (Saat ini tingkat pengangguran AS berada di 8,1%). Data tingkat pengangguran AS ini akan dirilis setiap Jumat pertama setiap bulan pada pukul 19.30 WIB (summer time) atau 20.30 WIB (winter time).

Suntikan dana baru sebesar 40 milyar dollar AS per bulan ke perekonomian tentu saja merupakan stimulus yang besar. Pasar keuangan sudah jelas sangat mendapatkan keuntungan dari kebijakan ini. Sementara sektor riil “diharapkan” juga mendapatkan keuntungan. Penguatan harga emas akan mendapatkan sokongan. Target $2000 per troy ons, seperti yang diproyeksikan banyak analis, mungkin dapat tercapai tahun depan.