Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed

December 23rd, 2015 No comments

Sepanjang tahun 2015, para pelaku pasar telah menantikan keputusan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Penantian tersebut akhirnya terpenuhi. Keputusan tersebut baru datang di penghujung tahun 2015. Fed akhirnya menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat moneter di bulan Desember lalu untuk yang pertama kali dalam 10 tahun. Dan suku bunga Fed sudah sejak 2008 berada di kisaran 0-0.25%.

Kenaikan suku bunga acuan AS ini tidak disambut dengan penguatan dollar AS yang berlebihan. Indeks Dollar AS mengalami penguatan terbatas ke area 99.29. Setelahnya indeks Dollar AS berbalik melemah, bergerak dalam tren turun ke kisaran 98. Rupiah pun bisa kembali menguat terhadap Dollar AS menyentuh kembali kisaran Rp.13560 dari sebelumnya di atas Rp.14000. Harga emas juga kembali menguat ke kisaran $1080 per troy ons dimana sebelumnya tertekan di kisaran $1047 per troy ons.

Fed Fund Rate graph

Grafik Pergerakan Tingkat Suku Bunga Acuan AS 2006-2015, Sumber: Tradingeconomics.com

Mengapa hal itu terjadi? Rupanya pasar mulai mencerna pernyataan yang dikeluarkan oleh Gubernur Federal Reserve, Janet Yellen pasca keputusan. Yellen mengungkapkan bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru untuk menaikan suku bunga lagi. Fed memperkirakan target suku bunga acuan AS di 2016 ada di kisaran 1.25-1.50% atau sekitar 100 basis poin dibandingkan level saat ini. Kisaran 100 basis poin ini berarti Fed kemungkinan akan menaikan tingkat suku bunga sebanyak 4 kali di tahun 2016.

Namun para pelaku pasar, yang disurvei oleh beberapa media keuangan, memperkirakan target suku bunga akan di bawah level perkiraan Fed. Mengingat pengalaman di tahun 2015 dimana para pelaku pasar cukup lama menantikan kenaikan suku bunga AS yang pertama, para pelaku pasar memperkirakan Fed mungkin tidak akan menaikan suku bunga sebanyak 4 kali, tapi mungkin paling banyak 2 kali atau sekitar 50 basis poin. Keraguan para pelaku pasar yang terlihat dalam survei-survei media tersebut membuat penguatan Dollar AS terbatas.

Akan tetapi, hal ini tidak serta merta membuat Dollar AS melemah tajam. Potensi kenaikan lanjutan suku bunga akan membatasi pelemahan Dollar AS. Pasar juga melihat perekonomian AS bertumbuh ke arah yang positif dan mampu meredam penguatan suku bunga. GDP AS kuartal ke 3 tumbuh di kisaran 2,1%, dan rata-rata pertumbuhan GDP 2015 2,2% per kuartal, mendekati rata-rata pertumbuhan GDP tahun 2014 yang 2,5% per kuartal. Ini jauh lebih bagus dibandingkan rata-rata pertumbuhan GDP AS tahun 2013 yang hanya 1,5% per kuartal. Selain itu, ekonomi AS juga ditopang oleh tingkat pengangguran yang terus menurun. Tingkat pengangguran AS sempat berada di dekat angka 8% dan kini sudah berada di kisaran 5% dan mungkin bisa mencapai 4,7% di tahun 2016. Jumlah orang yang dipekerjakan semakin banyak akan memutar roda perekonomian AS dengan cepat sehingga pertumbuhan GDP bisa lebih tinggi.

Satu indikator ekonomi yang menjadi pertimbangan penting Fed yang bisa menghambat kenaikan suku bunga lanjutan adalah tingkat inflasi yang masih jauh di bawah 2%. Bila dalam perjalanan ke depannya, tingkat inflasi ini sulit untuk naik, Fed mungkin akan berpikir 2 kali untuk menaikan suku bunga lagi. Apalagi bila grafik ekonomi AS secara keseluruhan menurun pada kuartal selanjutnya, Fed mungkin akan melupakan rencana kenaikan suku bunganya.

Jadi segala keputusan Fed akan kembali lagi ke perkembangan indikator-indikator makro ekonomi AS. Indikator-indikator ini akan menjadi sinyal perubahan keputusan suku bunga AS ke depannya. Fed tidak akan gegabah menaikan tingkat suku bunga tanpa pertimbangan kekuatan ekonomi AS. Setelah kenaikan suku bunga AS yang sekarang, Fed tentunya akan melakukan analisa dampak kenaikan terhadap perkembangan ekonomi AS sebelum melakukan perubahan kebijakan lagi. Ini artinya Fed masih perlu waktu sebelum keputusan berikutnya. Banyak media melansir Fed baru akan menaikan suku bunga kembali di bulan Maret 2016.

Pergerakan nilai tukar utama dunia tidak hanya akan ditentukan oleh kebijakan moneter Bank Sentral AS. Bank sentral dunia lainnya juga akan turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar seperti Bank Sentral Eropa (ECB), Bank Sentral Inggris (BOE), Bank Sentral Jepang (BOJ), Bank Sentral Australia (RBA), dll.

ECB, BOJ dan RBA masih mantap dengan program pelonggaran moneternya di 2015. Sementara BOE berkeinginan memperketat kebijakan moneternya. Namun semua rencana bank sentral tersebut sepertinya tidak sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar. ECB, BOJ dan RBA tidak mendorong pelonggaran pasar lebih jauh dan masih berkutat dengan kebijakan saat ini, padahal pasar berekspektasi ECB, BOJ dan RBA akan menambah kebijakan stimulusnya. BOE yang tadinya diyakini akan dengan cepat mengekor Fed untuk menaikan tingkat suku bunga, saat ini diyakini akan menunda lebih lama lagi kenaikan tersebut. Ini karena tingkat inflasi Inggris masih jauh di bawah harapan.

Dengan demikian, kemungkinan di kuartal pertama tahun 2016, Euro, Yen dan Dollar Australia masih mampu bertahan di atas level rendah terhadap Dollar AS. EURUSD mungkin masih akan bertahan di kisaran 1.0460-1.1720, USDJPY di kisaran 115.80-125.85, AUDUSD di kisaran 0.6900-0.7500 dan GBPUSD akan sedikit tertekan ke 1.4300-1.5500.

Analisa trading di pasar berjangka Indonesia bisa dilihat di: www.monexnews.com

Categories: forex, Global Economy Tags:

Pergerakan Harga Emas di Awal 2015

December 31st, 2014 1 comment

Harga emas masih dibayangi tekanan turun sepanjang 2014. Harga emas ditutup di kisaran $1209.39 per troy ons di 2013 dan di awal 2014 sempat menguat hingga ke area 1391.97 yang terjadi pada bulan Maret. Namun tekanan naik tidak bertahan lama, harga kembali tertekan dan bergerak sideways. Pada bulan September, harga akhirnya berhasil menembus ke bawah area penutupan 2013 dan membentuk level terendah di area 1130.10 pada bulan November. Level terendah ini adalah kisaran terendah sejak April 2010.

Beberapa faktor fundamental yang membuat harga emas belum bisa beranjak dari tekanan turunnya yaitu penguatan dollar AS karena prospek kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS di 2015 dan pelambatan ekonomi China dimana China merupakan salah satu konsumen emas terbesar dunia.

Dan faktor-faktor fundamental tersebut masih belum akan berakhir terutama di awal tahun 2015. Pasar masih menantikan kenaikan suku bunga acuan AS yang kemungkinan akan terjadi di awal semester ke-2 2015 dan mungkin akan dilanjutkan dengan serangkaian kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun. Sementara perekonomian China di 2015, banyak diprediksi oleh berbagai analis bahwa ekonomi China akan tumbuh di bawah pertumbuhan 2014 sekitar 7,0-7,1%.

Selain itu ada isu bahwa Bank Sentral Rusia kemungkinan akan menjual sebagian cadangan emasnya untuk mencegah dan membantu penguatan kembali nilai tukar Rubel terhadap dollar AS. Rencana penjualan ini memang baru sebatas isu atau rumor namun sudah bisa memberikan sentimen negatif ke harga emas.

Berdasarkan data permintaan emas yang dilaporkan oleh World Gold Council, harga emas memang sudah sewajarnya masih tertekan. Total permintaan kuartal pertama hingga kuartal ketiga 2014 di bawah total permintaan kuartal pertama hingga kuartal ketiga 2013. Permintaan Q1-Q3 2014 turun sebesar 5,63% dibandingkan permintaan Q1-Q3 2013. Total permintaan Q1-Q3 2014 sebesar 2963,5 ton sementara total permintaan Q1-Q3 2013 sebesar 3140,2 ton.

Grafik Bulanan Harga Emas

Grafik Bulanan Harga Emas — Sumber: Monex Trader

Bila kita menilik grafik harga emas bulanan, harga masih terlihat tertekan di bawah Moving Average (MA) 20. Indikasi tekanan turun juga ditunjukkan oleh indikator RSI (14) yang masih berada di bawah angka 50 atau di kisaran 40. Demikian pula indikator Stochastics dan MACD yang masih membuka peluang tekanan turun.

Namun demikian, divergensi yang terlihat pada indikator RSI terhadap harga dimana RSI terlihat terangkat naik sementara harga terlihat turun, membuka peluang harga kemungkinan akan mencapai level rendah dan kembali rebound.

Harga berpeluang menguji kembali level rendah 1130. Pergerakan di bawah 1130, membuka peluang pelemahan lanjutan ke kisaran 1075-1045. Sementara penguatan kemungkinan terbatas di kisaran 1257-1290. Pergerakan di atas kisaran tersebut, membuka peluang penguatan kembali ke area 1390.

Twitter: @aristontjendra

www.monexnews.com

Mewaspadai Penguatan Dollar AS

September 25th, 2014 No comments

Dollar AS mulai stabil menguat sejak awal semester ke-2 tahun ini seperti yang ditunjukan oleh penguatan indeks dollar AS (=USD). Indeks dollar AS (definisinya bisa dibaca di sini). Indeks dollar AS sudah membentuk kisaran tertinggi 2014 di 85.48 (25 September 2014). Ini juga merupakan level tertinggi sejak Juli 2010.

Indeks Dollar AS

Grafik Indeks Dollar AS; Sumber: Monex Trader

Kembalinya indeks dollar AS ke level tinggi ini karena ekspektasi pasar mulai membesar soal kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (Fed). Selain itu, Fed sudah merencanakan untuk menghentikan stimulus pada rapat moneter sekitar akhir Oktober ini. Jadi arah kebijakan moneter AS sudah berubah menuju ke pengetatan moneter.

Fed selalu mempertimbangkan data-data ekonomi AS sebelum mengambil keputusan untuk mengubah kebijakan moneter AS. Dengan data-data ekonomi AS yang semakin membaik belakangan ini, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Fed semakin membesar. Biasanya nilai tukar suatu negara akan semakin menguat bila bank sentralnya menerapkan kebijakan pengetatan moneter.

Fed diekspektasikan akan menaikan suku bunga pada awal semester ke-2 2014. Namun kini mulai berkembang ekspektasi baru di pasar bahwa Fed mungkin menaikan suku bunga lebih cepat dari proyeksi sebelumnya. Semua memang baru spekulasi. Fed memang belum pernah memberikan jawaban yang pasti. Namun pasar meraba dari pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan Fed maupun para petingginya.

Saat ini suku bunga acuan Fed yang dinamakan Federal Funds Rate berada di level 0-0,25%. Dan kalaupun dinaikan mungkin hanya sebesar 25 basis poin atau menjadi sebesar 0,5%. Meskipun kenaikan terbilang kecil, tapi ini sudah memberikan isyarat ke pasar bahwa ekonomi AS sudah pulih.

Di kuartal ke-4 nanti, momentum penguatan dollar AS mungkin masih terjaga bila data-data ekonomi AS yang akan dirilis selalu sesuai atau lebih bagus dari ekspektasi pasar, terutama data-data tenaga kerja, perumahan, manufaktur dan inflasi. Indikasi pengetatan yang mungkin dikeluarkan pada rapat moneter akhir Oktober nanti juga bakal menjaga momentum penguatan dollar AS hingga akhir tahun. (Jadwal rapat moneter bank sentral bisa dilihat di sini)

 

 

 

 

 

 

 

Ada Resiko, Ada Peluang

June 4th, 2014 No comments

Banyak orang yang bilang bertransaksi di pasar keuangan itu (bursa saham, bursa berjangka komoditi, forex) beresiko, uang bisa habis dalam waktu sekejap, tidak menguntungkan, dsb. Memang benar demikian, tapi dengan catatan. Dan, tidak bisa dipungkiri juga bahwa bertransaksi di pasar keuangan juga memberikan peluang keuntungan.

Ada resiko pasti ada peluang, sama seperti membuka suatu bisnis. Resiko tentu harus diperhitungkan, tapi juga tak lupa menyiapkan strategi untuk menghasilkan keuntungan. Sama seperti membuat bisnis, bertransaksi di pasar keuangan juga membutuhkan rencana dimana dalam rencana tersebut dimuat tujuan, strategi, target keuntungan, dan batas resiko yang harus diambil. Rencana ini penting sebagai panduan kita terutama apabila posisi kita tidak sesuai dengan arah harga di pasar keuangan.

Bila kita sudah salah posisi, apa yang harus kita lakukan. Apakah kita membiarkan saja nanti harga akan berbalik, apakah kita melakukan stop loss di harga yang kita sudah kalkulasi, atau yang lainnya. Bila kita membiarkan saja dengan suatu harapan, ini yang bisa membuat transaksi di pasar keuangan beresiko besar karena kita tidak bisa mengkalkulasi resiko. Lain halnya bila kita sudah memiliki rencana yang lengkap sebelum bertransaksi yang membuat resiko kita bisa terukur.

Untuk memperbesar peluang mendapatkan keuntungan dalam bertransaksi di pasar keuangan, selain mampu mengelola resiko, kita harus mempunyai strategi yang bagus. Strategi ini membantu kita menentukan kapan kita masuk ke pasar, kapan kita keluar dari pasar. Untuk membuat strategi yang bagus tentu kita harus banyak belajar, bisa dari buku, informasi dari internet atau trader yang sudah mahir. Sekilas kalau kita melihat mekanisme bertransaksi di pasar keuangan cukup mudah, tinggal tekan tombol buy atau sell. Tapi tentunya untuk mendapatkan keuntungan secara konsisten dibutuhkan lebih dari itu. Oelh karena itu, edukasi diri kita untuk mendapatkan keuntungan yang konsisten dari pasar keuangan.

 

Currency War Bank Sentral G7

currency-logo

Di awal tahun 2014 lalu, terkesan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed), Inggris (BoE), Kanada (BoC) lebih condong akan mengubah kebijakan moneternya ke arah pengetatan. Namun belakangan ini, ketiga bank sentral berusaha meredam ekspektasi pasar tersebut. Sementara Bank Sentral Jepang (BoJ) dan Eropa (ECB) memang masih terlihat mendukung pelonggaran moneter sejak tahun lalu.

Fed sudah memutuskan pengurangan stimulus (tapering) di akhir 2013 dan kebijakan tapering ini pun berlanjut di tahun 2014. Dari sebelumnya program pembelian aset sebesar $85 milyar setiap bulannya, kini tinggal $45 milyar. Bahkan Fed berancang-ancang akan meniadakan stimulus di akhir tahun 2014 ini dan mungkin akan memulai kenaikan suku bunga pada pertengahan 2015. Namun belakangan ini melalui Janet Yellen (Gubernur Fed), Fed menyatakan masih perlunya dukungan kebijakan pelonggaran moneter untuk perekonomian AS.

Adapun Bank Sentral Inggris sejak akhir tahun lalu sudah dianggap sebagai bank sentral G7 yang akan pertama kali menaikan suku bunga. Ini karena data-data ekonomi Inggris cukup memuaskan. Terutama tingkat pengangguran yang pernah dijadikan acuan oleh BoE, sudah turun menjadi 6,9% di bawah ambang batas 7% yang ditetapkan BoE sebagai syarat untuk mengubah kebijakan moneter menjadi lebih ketat. Dan di kuartal ke-2 tahun 2015, BoE diperkirakan akan menaikan suku bunga. Namun para pejabat BoE secara verbal mengatakan bahwa Inggris masih memerlukan kebijakan pelonggaran moneter hingga pemulihan ekonomi berlangsung stabil. BoE juga belum akan menghilangkan program pembelian aset sebesar 375 milyar pound hingga tingkat suku bunga acuan mulai dinaikan.

Kanada dengan pertumbuhan GDP dan tingkat inflasi dalam tren yang positif membangun ekspektasi pasar bahwa BoC akan mulai memikirkan kebijakan pengetatan moneter. Namun BoC menegaskan bahwa kebijakan pengetatan moneter belum akan terjadi dalam waktu dekat meskipun pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari ekspektasi semula. Selain itu BoC memandang bahwa tingkat inflasi masih di bawah target paling tidak hingga 2016.

Komitmen pada pelonggaran moneter tentu saja berimplikasi pada pelemahan nilai tukar masing-masing. Nah, dengan ke-5 bank sentral menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pelonggaran moneter menimbulkan kesan seakan-akan mereka lebih senang mata uangnya melemah dan ini diam-diam menimbulkan perang mata uang (currency war). Nilai tukar yang lemah memang dibutuhkan di negara G7 yang sedang dilanda tingkat inflasi yang rendah yang berpotensi menuju deflasi.

Dengan kecenderungan kebijakan moneter yang sama, pergerakan nilai tukar akan ditentukan oleh rilis data-data ekonomi yang menjadi indikator kesehatan ekonomi dan mungkin bisa mengubah arah kebijakan moneter ke depannya. Mana data ekonomi yang menunjukkan hasil yang lebih baik, mata uang itu yang akan menguat dibandingkan mata uang lainnya. Jadinya pergerakan nilai tukar akan rentan dengan data-data ekonomi baru yang akan dirilis di kemudian hari.

Jadwal rilis data-data ekonomi penting bisa dilihat di sini: http://www.monexnews.com/calendar/homeCalendar.htm.

Twitter: @aristontjendra